Senin, 01 Mei 2017

Perjalanan Umroh : Umroh Dengan Bayi

Saya percaya bahwa perjalanan ke Baitullah adalah panggilan khusus dari Allah kepada siapa yang telah Ia pilih. Tidak akan salah dan tidak akan tertukar. Begitu pula pada saat suami saya mendapat panggilan ke Baitullah yang bertepatan dengan hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-8, akan mengajak serta saya berangkat bersamanya sebagai hadiah anniversary dan sekaligus hadiah milad ke-30 saya :D dalam kondisi kami memiliki 4 anak yang usianya masih kecil. 

Keberangkatan yang hanya berjarak sekitar 6 pekan saja dari awal rencana membuat saya harus memutar otak bagaimana caranya saya dan suami bisa berangkat umroh dalam kondisi demikian. Anak adalah amanah kami dari Allah dan dalam perjalanan kami memelihara mereka Allah memanggil kami ke Baitullah. Sebenarnya ini bukan kondisi yang pertama kali kami alami. Tujuh tahun lalu pun kami berangkat umroh dalam kondisi meninggakan anak pertama yang masih berusia 6 bulan, jauh lebih kecil usianya saat itu daripada usia anak-anak kami saat ini. Namun ada kesalahan-kesalahan yang tidak ingin saya ulangi dan saya ingin mempertimbangkannya baik-baik.

Setelah mempertimbangkan, maka kami putuskan akan membawa serta bayi kami, Thaha Muhammad Kauthar (Toha) yang saatnya berangkat nanti akan berusia 21 bulan. Ketiga kakaknya tinggal di rumah di bawah pengasuhan Enin. Saya kembali memutar otak bagaimana agar semuanya aman terkendali baik kami yang membawa serta Toha berpergian jauh maupun anak-anak yang tinggal di rumah tanpa kami selama kami umroh.

Dengan berbekal mencari info dari berbagai sumber maka dilakukanlah segala macam persiapan. Untuk anak yang ditinggal di tanah air kami persiapkan segala kebutuhan mereka selama kami tinggal. Juga kami berencana akan sering menghubugi mereka agar mereka merasa kami tetap ada di rumah. Sementara untuk anak yang akan ikut kami pun tak kalah mempersiapkan semua kebutuhannya.

Tiba saatnya ummi, abu, dan Toha berangkat umroh. Kami membawa segala macam perlengkapan Toha termasuk pakaian, makanan, mainan, Stroller, Ergo, Baby Sling. Saat berangkat 2 Koper besar masuk bagasi sementara 2 tas selempang, 1 koper kabin, baby sling,dan stroller berencana masuk kabin. Baby sling yang multiguna digunakan untuk menggendong, alas tidur, atau selimut. Sementara stroller alhamdulillah sangat berguna selama proses check in di Bandara Soekarno Hatta yang memakan waktu sekitar 3-4 jam.
Ketika check in di konter Etihad, petugas menjelaskan karena stroller kami berukuran besar maka harus masuk ke dalam bagasi namun masih bisa digunakan sampai Boarding Room. Di konter check in ini, stroller kami dilabeli oleh petugas. Ketika sudah sampai Boarding Room, petugas membawa stroller kami untuk kemudian dikemas plastik khusus sebelum masuk bagasi. Stroller tersebut bisa kami ambil di Airport tujuan akhir kami yaitu King Abdul Aziz Airport, Jeddah.

Terbanglah kami meninggalkan tanah air menembus langit yang mulai gelap. Karena kami membawa infant, maka kami diberi tempat duduk paling depan sehingga lebih leluasa. Qadarullah di perjalanan Toha mulai demam dan rewel sepanjang jalan. Sesekali kami beri hiburan games pada Ipad namun tak bertahan lama.

ABU DHABI
Ketika transit di Abu Dhabi Airport, tersedia banyak stroller yang bisa kami gunakan selama transit di sana
Alhamdulillah demam Toha lumayan reda dan mau duduk manis di atas stroller berwarna orange tersebut sambil menikmati kemegahan airport.

MAKKAH AL-MUKARRAMAH
Sampailah kami di masjidil haram, badan Toha mulai demam lagi. Kali ini, saya memakai ergo untuk menggendongnya. Sepanjang rukun umroh dilaksanakan, Toha berada dalam dekapan saya. Sesekali diselingi dekapan abu nya saat saya benar-benar merasa kepayahan menggendongnya. Berjalan dari hotel ke masjid-thawaf-shalat-sai semua kami jalani tanpa sedetikpun melepaskannya dari dekapan kami. Itu juga menjadi pengalaman pertama saya melakukan gerakan shalat sambil menggendong bayi. Di tanah air, anak-anak saya biasanya tidak ada yang bau gendongan, semuanya bebas berekspresi di lantai saat saya shalat, namun kali ini saya mengkhususkan karena Thaha sedang sakit dan sedang berada dalam perjalanan yang jauh dalam situasi asing baginya, maka apabila saya melepaskannya dari gendongan, saya tau dia pasti akan menangis.

Memasuki hari ketiga Toha masih demam, kami berikan paracetamol meski pengaruhnya hanya sebentar. Akhirnya saya putuskan untuk datang ke apotik sebelah hotel kami menginap. Berbincang sebentar dengan sang apoteker tentang gejala sakit yang Toha alami, kemudian apoteker menyarankan untuk memberikan atibiotik. Biasanya kami jarang sekali menyerah pada antibiotik, apalagi kami tau penyebab utamanya adalah virus flu yang kemudian terdapat batuk-batuk dan lendir yang mulai berwarna yang mengindikasikan bakteri. Kalo di tanah air, biasanya tak pernah kami melirik antibiotik untuk kasus sederhana seperti ini. Namun mengingat waktu kami di sini sangat singkat dan kami ingin mengoptimalkan ibadah, dalam kondisi Toha demam dan rewel namun harus mengikuti ritme ibadah kami yang mungkin terlalu berat bagi seorang bayi yang sedang demam, saya pun luluh. Dan benar saja, setelah 2x minum antibiotik panasnya berangsur turun dan tak naik-naik lagi. 
Toha kembali ceria. Namun ada yang yang tak berubah, setiap kali ke masjid dia tidak mau turun dari dekapan saya. Dia menangis kencang setiap kali shalat dimulai, dan akhirnya saya terpaksa melakukan gerakan shalat sambil menggendongnya. Masalahnya tidak setiap waktu shalat kami mendapat tempat yang tenang dan lega. Seringkali kami mendapat tempat shalat yang berdesakan sementara untuk melakukan gerakan shalat dengan menggendongnya diperlukan tempat yang lebih luas. Kalau tidak Toha akan menjerit karena terjepit atau tendangan kakinya akan mengenai badan orang sebelah sementara orang yang sebelah saya tidak tau sifatnya seperti apa, takutnya marah besar gt karena terkena tendangan Toha saat saya rukuk atau sujud. 
Hari kembali berselang dan Toha masih seperti itu. Saya merenung. Sepertinya psikologi Toha terganggu. Saya melihat ke sekeliling dan meresapinya. Lalu menyimpulkan sepertinya Toha takut terhadap lingkungan sekitar. Postur tubuh orang-orang sana yang berbeda dari yang biasa dia lihat di tanah air, juga pakaian hitam-hitam dari ujung kepala sampai kaki juga mungkin membuatnya tidak nyaman. Ah, benar sepertinya karena itu. Ditambah dia kehilangan sahabat-sahabat lucu separuh jiwanya, kakak-kakaknya yang biasa ada di sekelilingnya. Cup cup. Kasihan amat Nak. InsyaAllah kita aman karena sedang bertamu ke Rumah Allah, tak perlu takut. 
Dan Toha pun hanya mau turun dari dekapan saya di saat-saat tertentu saja. Di hotel, di tempat burung-burung merpati berkumpul, di resto, dan sesekali di masjid tapi itupun saat tertarik memainkan keran air zam-zam. Sisanya harus saya dekap. Mau sama dekapan ummi saja, bahkan tak mau diselang dekapan abu! Setiap shalat Toha ada di dekapan Ummi. 
Ummi capek? Ummi pegel? Ummi kesel? Tentu sajah! Toha 12 kg lho :D Bahkan pernah mencapai titik terlelah, namun saya tidak mau menyerah untuk berdiam diri di hotel. Saya mau terus ke masjid! Bismillah, semoga lelah menggendong Toha tanpa jeda ini menjadi pemberat amalan saya di hari perhitungan nanti ya.
Pernah suatu kali kaki saya sampai bengkak dan sakit karena kaki harus menopang beban berat selama berjalan kesana kemari sambil mendekap Toha. Saya pun harus shalat menggunakan kursi persis seperti ummahat-ummahat Arab, tetap sambil menggendong Toha tentunya. Dan foto itu diambil suami diam-diam saat qiyamu lail di rooftop masjidil haram. Tempat yang kami pilih saat ingin menenangkan diri karena di sana tidak begitu banyak orang.

Lalu bagaimana nasib stroller yang sudah dibawa jauh-jauh dari tanah air? Stroller teronggok saja di kamar hotel. Selain karena Toha inginnya digendong terus, rasanya agak repot juga karena nanti kami harus menaruh stroller di luar masjid. Meskipun begitu stroller sudah sangat berjasa selama proses check in di Bandara Soekarno-Hatta.

Ketika perjalanan pulang ke tanah air nantinya, kami melalui Prince Mohammed bin Abdul Aziz Airport. Di sana, stroller harus melalui wrapping dari Airport dan dikenakan biaya 20 riyal atau 100 ribu apabila menggunakan rupiah.

Salah satu ritual ibadah yang sulit dilakukan sambil menggendong bayi adalah Thawaf. Hampir setiap waktu thawaf berada dalam kondisi berdesakan. Apalagi sekitar area hajar aswad. Kami biasanya thawaf mandiri bertiga saja, tidak bersama rombongan. Saya berbanjar dengan suami dengan posisi Toha didekapan saya. Tangan saya memborder kanan kiri, berpegang erat pada dua buah tali tas di punggung suami. Apabila mulai ada arus yang mendesak cukup kencang kami setengah berteriak "baby..baby...". Orang-orang pun biasanya akan berhenti mendesak kami. 

Dan hal yang paling menantang di masjidil haram adalah ketika harus berdesak-desakan untuk shalat di Hijr Ismail. Hijr Ismail adalah salah satu tempat dikabulkannya doa kita. Orang-orang berebut untuk masuk ke sana. Tidak sambil gendong bayi pun ini adalah hal yang sulit. Terseret-seret arus yang begitu berdesakan di tempat yang sempit. Beruntung suami saya bersikeras membawa saya dan Toha ke sana. Shalat di tempat yang tak layak untuk gerakan rukuk dan sujud. Suami saya menjaga tempat sujud saya yang beberapa kali hendak diinjak. Kondisi saya tetap menggendong Toha. Pengalaman yang luar biasa. 

Untuk mencium hajar aswad, perempuan tidak direkomendasikan. Apalagi yang membawa bayi seperti saya. Saya cukup menunggu di depan kabah saja saat suami saya mencium hajar aswad sambil mendoakannya.

MADINAH AL-MUNAWARAH
Saat di Madinah, hotel kami tepat depan Masjid Nabawi, Gate 5 yang langsung menuju masjid bagian depan, tempat di mana Raudhoh berada. Namun, di Masjid Nabawi itu, masjid laki-laki dan perempuan terpisah. Masjid perempuan terletak di bagian belakang. Hotel berada tepat di depan Raudhoh yang merupakan tempat laki-laki. Perjuangan saya untuk berjalan ke tempat shalat perempuan sambil mendekap Toha cukup jauh jadinya. Bismillah, kuat!

Hal yang paling luar biasa di sini adalah Raudhoh. Laki-laki bisa setiap saat berada di Raudhoh sementara perempuan hanya bada shubuh, bada dzuhur, dan bada isya. Karena terbatasnya waktu, antrian jamaah perempuan yang hendak ke raudhoh sangat membludak. 

Kali ini saya tidak bisa pergi bersama suami. Maka saya akan pergi dengan teman-teman satu grup. Beruntung kami punya pembimbing perempuan yang bersedia menemani kami kemana saja. Foto di bawah adalah foto saya bersama teman-teman satu grup. Dan ternyata perjuangan shalat di raudhoh lebih besar daripada perjuangan shalat di Hijr Ismail. Saya membutuhkan waktu 4 jam dalam kondisi begitu Crowded. Beruntung punya teman-teman perjalanan yang baik. Juga pembimbing yang benar-benar menemani kami ke sana kemari.
Pertama mencoba masuk ke Raudhoh,baru sedikit saja saya menginjakkan kaki di karpet Raudhoh langsung terseret arus keluar. Keadaan tidak terkendali, kami terombang ambing arus yang begitu padat, dan di depan kami ada 2 orang yang terjatuh dan terinjak, astaghfirullah. Akhirnya dengan susah payah dan diborder orang-orang saya berhasil keluar dari arus yang mengerikan.


Kemudian kami menunggu cukup lama dengan tilawah dan tahajjud di depan raudhoh. Biasanya pukul 23 akses pintu akhwat ditutup. Namun ini nyaris pukul 02 pagi jamaah perempuan yang mau ke raudhoh masih berdatangan. Akhirnya kami didesak oleh askar untuk segera bergerak menuju raudhoh. Masya Allah. Dan kami pun berhasil shalat di raudhoh sambil berdesakan secara bergiliran. Karena saya mengendong bayi, saya kebagian shalat terakhir setelah pembimbing membantu mencarikan tempat sujud yang lebih layak saking berdesakannya. 

Ya Allah..  rasanya tangis saya pecah saat shalat di taman syurga tersebut. Selesai shalat, askar yang tadinya meneriakin kami saat shalat mempersilakan saya duduk di kursi untuk berdoa, pasti itu karena melihat saya menggendong bayi. Alhamdulillah, saya manfaatkan untuk berdoa kepada Allah sampai puas. Tangis saya semakin pecah merasakan nikmatnya shalat dan berdoa di sana. Ya Allah... terimakasih telah mengundang kami bertiga ke sini :)

Nah, itu sedikit cerita mengenai umroh bersama bayi. Intinya persiapannya harus matang. Tenanga harus kuat. Lalu ikhlas dan sabar menjalani setiap prosesnya. Sesungguhnya kemudahan saat umroh membawa bayi jauh lebih banyak daripada kesulitannya. Seringkali Toha dicium oleh wanita Arab atau Turki yang cantik-cantik itu. Sering juga diberi permen atau hanya sekedar dicubit pipinya :) 

Semoga apa yang saya sampaikan ini bermanfaat untuk anda yang akan umroh membawa bayi.

Minggu, 30 April 2017

Perjalanan Umroh : Sejenak Meresapi Sirah


MAKKAH SEDALAM CINTA
@salimafillah

 

Jika kau merindu Makkah, sesekali abaikanlah bayangan tentang gedung-gedung yang menjulang gagah, juga jam raksasa yang berdetak mengabarkan kian dekatnya sa'ah.Tapi biarkan khayal itu menyusuri bukit-bukit yang kini bebatuannya pecah-pecah, yang di tengahnya dulu terjepit sebuah lembah. Di situlah semua bermula, dalam doa di dekat bangunan tua yang tetap terjaga bersahaja.
“Ya Rabb kami, sungguh telah kutempatkan sebagian keturunanku di lembah tak bertanaman di dekat rumahMu yang dihormati. Ya Rabb kami, agar mereka mendirikan shalat. Maka jadikanlah hati sebagian manusia merundukkan cinta pada mereka,dan karuniakan pada mereka rizki dari buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur.”
[QS. Ibrahim [14]: 37]
Mereka yang menyejarah, memulai semuanya dengan keyakinan pada Penggenggam Alam Semesta, bahwa hidup prihatinnya adalah agar sandaran jiwa raganya hanya kepada Allah.
Kadang ia memang duka, tapi sedalam cinta.
Bayangkanlah kecamuk perasaan seorang istri yang ditinggalkan beserta bayi merah oleh sang suami, di tempat yang harapan hidup dalam nalar manusia sungguh nihil kiranya. Tiga kali dia mengejar lelaki yang tak sanggup berkata-kata itu dengan tanya, "Mengapa kautinggalkan kami?" Dan semua baru jelas ketika dia mengganti soalan menjadi, "Apakah ini perintah Allah?"
"Ya."
"Jika ini perintah Allah", begitu dia tegaskan dengan menguatkan hati, "Dia takkan pernah menyia-nyiakan kami."
Perasaan imani wanita ini, yang diperjuangkan mengatasi emosi-emosi; kecewa, takut, galau, sedih, dan cemburu menjadi tonggak berdirinya sebuah peradaban hanifiyyah. Tanpa ucapan Hajar ini, kita tahu; lembah Bakkah tetap akan sunyi, tak ada lari bolak-balik tujuh kali dalam pendingin udara yang sejuk sekali, meski kita sedang mengenang pembuktian iman di tengah terik mentari yang memanggang pasir dan batu menyengat kaki, dengan sisa tenaga seorang wanita yang air susunya kering dan bayinya menangis kelaparan.
 Duka Ibrahim yang berulang, ketika buah hati sibiran tulang yang dinanti hingga menua harus ditinggalkan, kemudian ketika dia tumbuh gagah membanggakan lalu harus disembelih, adalah duka sedalam cinta.
Cinta pada Allah di atas segalanya.
Jika nanti kau mengunjungi Makkah, sesekali palingkanlah wajah dari toko-toko yang megah dan barangan yang mewah, dan beralihlah menatap pasir-pasir dan debunya yang kini lebih kerana pembangunan di mana-mana.
Sebab dalam suasana itu, Sumayyah menemui syahadah, Yasir disalib, Bilal diseret ke tengah gurun, ditindih batu di atas pasir membara, dan dicambuk hingga pemecutnya kelelahan. Sebab dalam sesak itu, Khabbab pernah diselongsong di atas api pembakar besi, hingga cairan yang menetes dari lepuhan punggunglah yang memadamkan nyalanya.
Dalam gerah ini pula, Sang Nabi ﷺ menangis dan berkata, "Duhai Makkah, sungguh engkau adalah bagian bumi yang paling dicintai Allah, maka kamipun sangat mencintaimu.. Seandainya bukan karena kaumku mengusirku darimu, aku takkan pernah meninggalkanmu.."
Jika kau nanti menjadi tamu Allah, sesekali pejamkan matamu dari kilau gemerlap lampu-lampunya, kecerlangan marmer dan granit berukir-ukir. Lalu bacalah talbiyah dengan penghayatan orang-orang yang dipanggil Ibrahim lalu datang berjalan kaki atau menaiki unta-unta kurus dalam perjalanan berbulan-bulan dari lembah-lembah yang dalam.
Lalu mari mengenang dua uswah hasanah itu dalam doa rindu, "Allahumma shalli 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad. Kama shallaita 'ala Ibrahim wa 'ala ali Ibrahim."
Mereka yang menyejarah, selalu rindu kepada Makkah, menghayati duka sedalam cinta..


Perjalanan Umroh : Belanja Oleh-oleh

Saat akan menentukan budget oleh-oleh dan item apa saja yang akan dibeli, saya kebingungan karena minim sekali blog yang menginfokan hal ini. Oleh karena itu, pada tulisan ini akan saya paparkan mengenai beberapa item oleh-oleh yang saya beli di sana. Sayang sekali tidak semua barang berhasil saya dokumentasikan. Walaupun begitu, semoga tulisan saya ini bermanfaat.






Nah, ini diantaranya item yang ditemui di Bin Dawood, Makkah. Bin Dawood terletak di kawasan Zamzam Tower lantai dasar.

Foto paling atas adalah aneka bumbu, kebanyakan bumbu nasi khas Arab. Ini macamnya banyak sekali. Saya pun membeli belasan buah karena menganggap ini adalah item yang tidak bisa dibeli di tanah air. Foto kedua adalah bumbu kebuli premium seharga 14 riyal dan keju la vache seharga 7,5 riyal. Dan foto ketiga adalah cokelat kerikil kemasan 225gr seharga 16 riyal.


Nah, itu struk pembayaran belanja di Bin Dawood, Makkah.




Nah, kalau foto yang diatas itu adalah item yang saya beli di Abraj Hypermarket, Makkah. Letaknya masih di kawasan Zamzam Tower lantai 4. Foto pertama sejenis permen berukuran besar-besar isi 50 buah, saya beli 4 bungkus. Dan foto kedua masing-masing saya beli 1 kardus. Harganya ada di foto ketiga ya.


Yang kerlap kerlip ini adalah oleh-oleh khusus untuk anak-anak gadis. Mereka yang rikues. Saya beli masing-masing 3 buah sesuai jumlah anak gadis. Harganya masing-masing 10 real. Ditawar 6 item jadi 50 riyal. Kalau kurang dari itu nanti dibilang bakhil lho :D Harga di Makkah dan Madinah sama. Saya beli di Madinah, toko sebelah hotel. Selama di Makkah dan Madinah ini saya cuek saya belanja keliling-keliling sendirian dengan modal bahasa Indonesia. Para pedagang pun menyebutkan harga barang dengan bahasa Indonesia, "Sepuluh Riyal".



Nah, kalo yg itu contoh aja ya. Untuk item-item ini harganya lebih murah di Makkah daripada Madinah, banyak terdapat di toko2 yang berada di Lantai Dasar Zamzam Tower. Vaselin ukuran 60 ml di Bin Dawood harganya 8 riyal. Parfum Dobha 6 ml 6 riyal dan 3 ml 3 riyal. Hena kisaran 2-3 riyal. Gantungan kunci onta 3 riyal. Tasbih digital 3 riyal. Masih banyak lagi item, tapi sayang tidak sempat terdokumentasikan.


Yang ini colokan listrik dibeli seharga 6 riyal karena colokan listrik di hotel semua untuk apple, sementara HP kami android. Lalu madu Sidr seharga 8 riyal juga kami beli di toko sebelah hotel ketika sampai Makkah karena begitu perjalanan Jakarta-Abu Dhabi, Toha mendadak demam.



Karena menginjak hari ketiga demam Toha belum juga reda, maka masuklah kami ke Farmacy sebelah hotel. Kami konsultasi pada apoteker lalu jadilah kami menyerah membeli antibiotik yang disarankan oleh apoteker. Jarang-jarang kami menyerah pada antibiotik, demi mengoptimalkan ibadah di Masjidil Haram. Setelah itu kami meminta struk pembelian antibiotik tersebut. Harganya 29 riyal. Wow mahal. Di tanah air harganya sekitar 40 ribu. Alhamdulillah 2x minum antibiotik, Toha langsung sembuh. Sayangnya antibiotik harus dihabiskan sampai 10x minum.


Sampai di Madinah, suami mulai demam. Ingin mengulangi keberhasilan pengobatan Toha, dia pun langsung minta saya belikan antibiotik. Waduh kita ga RUM amat ya :D Tapi berharap bisa mengoptimalkan sisa waktu di Madinah untuk beribadah, saya pun nurut aja membelikannya antibiotik. Saya berkeliling jalan kota Madinah di sekitar hotel untuk mencari apotik. Setelah bertanya berkali-kali akhirnya saya menemukan sebuah apotik cukup besar di jalan utama. Saya segera meminta Amoxillin. Setelah apoteker memberikan obat tersebut, saya meminta struk pembelian. Kali ini saya lebih terkaget-kaget melihat harganya 36 riyal. Mahal amat ya obat di Arab. Kalau di tanah air, harga amoxillin engga nyampe 10 ribu rupiah @_@ hehehe. Sayang kemasan obatnya sudah dibuang saat di Madinah jadi belum didokumentasikan.


Untuk berbelanja oleh-oleh berupa makanan seperti kurma, cokelat bungkus kiloan, buah tin, cokelat kerikil, kacang almond, dll... Madinah juara lah. Tapi belinya jangan di kebun kurma. Beli lah di pasar kurma atau pasar murah sekitar masjid Nabawi. Harganya setengah harga di kebun kurma lho. Kurma azwa 45 riyal per 1 kg. Kurma sukkari 25 riyal per 3,5 kg (seperti yang terlihat pada gambar di atas). Sukkari itu kurma yang lembut dan tidak terlalu manis, kurma kesukaan kami kalau beli di tanah air seharga 170 rb/kg lho. Di madinah saya beli 3 box alias 10,5 kg. Hanya 75 riyal saja. Rasanya kalau koper masih muat ingin beli lebih banyak lagi :p


Cokelat kerikil 7 riyal per 225 gr. Buah tin 15 riyal. Kacang almond 40 riyal. Kacang bungkus 55 riyal. Kacang arab 15 riyal. Cokelat bungkus kiloan 14 riyal. Murah kan... tapi itu hasil menawar harga gila-gilaan :D

Alhamdulillah tuntas juga sesi belanja-belanja saya. Dari 800 riyal yang saya budgetkan, di dompet saya masih bersisa 28 riyal :)

Sabtu, 29 April 2017

Perjalanan Umroh : Money Changer


Bagi anda yang akan berangkat umroh, tentunya perlu mempersiapkan sejumlah uang Riyal untuk keperluan selama perjalanan umroh. Saya sarankan untuk menukar uang Riyal di tanah air secukupnya saja karena ternyata kurs Riyal di tanah air lebih mahal. Sisanya bisa anda tukar di money changer yang banyak tersedia di dekat hotel anda menginap di Makkah ataupun Madinah.


Gambar yang atas adalah bukti penukaran uang di tanah air, sedangkan gambar yang bawah adalah bukti penukaran uang di Madinah. Terlihat kan mana yang lebih murah? Di tanah air kurs Riyal sebesar 3.850 rupiah. Sementara di Madinah kurs Riyal 3.600 rupiah.





Persiapan Umroh : Rincian Biaya Umroh

Umroh kedua kami kali ini menggunakan paket umroh bintang 4. Sedikit lebih keren lah daripada umroh pertama kami yang menggunakan paket umroh bintang 3. Wkwkwk...Hanya saja karena takdir Allah, dulu itu hotel di Madinah dan Jeddah diupgrade jadi bintang 4. Hotel di Makkah nya saja yang bintang 3.

Tahun 2010 kami menggunakan paket umroh hemat $1350 yang kemudian menjadi $1450 untuk mendapat kamar Double atau berdua saja dengan suami. Untuk biaya lain-lainnya saya lupa. Yang pasti saat itu kurs Dollar masih sekitar 9 ribu rupiah, sehingga kami membayar 13 juta rupiah untuk paket umroh dengan kamar Double. Bayangkan  betapa murahnya biaya umroh kami pada saat itu. Berhubung dari pihak travel kami mendaftar, visa yang lolos hanya 4 orang, jadilah kami dititipkan pada travel lain yang sedang membawa jamaahnya yang membayar 20 jt/ paket. Betapa beruntungnya kami bisa mendapat fasilitas yang sama dengan mereka, hanya berbeda hotel di Makkah nya saja.

Untuk biaya umroh kedua kami memakai paket $1700 yang kemudian menjadi $1900 untuk mendapat kamar Double berdua saja dengan suami. Berikut rincian biaya nya :
- Biaya umroh 2*$1900*13.400 = 50.920.000
- Airport tax 2*1.350.000 = 2.700.000
- Biaya umroh Toha = 4.000.000
- Biaya pasport 3*355.000 = 1.065.000
- Biaya vaksin meningitis 2*305.000+350.000 = 960.000
-Oleh-oleh dan bekal perjalanan = 3.000.000

Totalnya sekitar 62.645.000

Apa saja fasilitas yang kami dapatkan?
1. Visa
2. Tiket pesawat Economy Class Etihad AA dengan rute Jakarta-Abu Dhabi-Jeddah dan Madinah-Abu Dhabi-Jakarta
3. Hotel Royal Majestic Makkah 4 hari, 300 meter dari Masjidil Haram
4. Hotel Nozol Syakreen Madinah 3 hari, depan masjid Nabawi banget.
5. Akomodasi + citytour
6. Makanan hotel menu indonesia + snack
6. Peralatan terdiri dari koper bagasi yang ekslusif, tas selempang, tas sepatu, kain ihrom & malaya, syal, beberapa buku panduan
7. Manasik
8. Pembimbing ustadz+ustdzh yang super duper baik deh...
melayani kebutuhan2 kami, mengantarkan kami kesana kemari..kayak orangtua sendiri.

Selasa, 11 April 2017

Persiapan Umroh : Packing

Umroh kali ini kami akan menggunakan 2 koper besar (bagasi), 1 koper kecil (kabin), dan 2 tas selempang.


Berikut rincian barang bawaan kami : 

Pakaian Toha
1. Jaket 1
2. Kupluk 2
3. Popok 1 pack
4. Baju lengan pjg 2 (anti dingin utk didouble di pesawat)
5. Baju lengan pdk + singlet + celana pjg (5)
6. Kaos kaki 2
7. Sepatu cadangan
8. Ergo baby

Pakaian abu
1. Baju koko 5
2. Celana pjg 5
3. Baju tidur 2 set
4. Kupluk 2
5. Pakaian dalam 5 set

Pakaian ummi
1. Gamis 3
2. Dress + rok (2)
3. Khimar 3 + bros peniti + ciput 2
4. Bergo 1
5. Baju tidur 2
6. Legging 2
7. Pakaian dalam 5 set
8. Kaos kaki 2
9. Panty liner 1 pack

Kosmetik
1. Alat mandi toha
2. Sikat gigi 2 + pasta gigi
3. Sabun + shampo (bawa yg kecil aja karena udah disediakan hotel)
4. Facial foam + mudmask
5. Night cream + eye cream
6. Cc cream spf 35 + lipcream
7. Scion nuskin + bodymist
8. Minyak butbut
9. Sisir + cotton bud

Farmasi
1. Inhalasi salbutamol
2. Paracetamol syrup + tablet
3. Cetrizine tablet
4. Oralit
5. Promag
6. Tolak angin

Perkakas
1. Gunting + electric shaver (utk tahalul sendiri)
2. Ecobottle 5 buah (utk zam2 tambahan)
3. Selotip
4. Plastik bening 1 kg + bubblewrap (utk bungkus zam2/minyak zaitun/parfum)
5. Detergen cair + hanger (utk laundry sendiri)

Perlengkapan koper kabin
1. Tisu + tisu basah
2. Popok 3 pcs
3. Minyak telon 60 ml
4. Baju cadangan 1 set/ orang
5. Kain ihrom
6. Panty liner (utk ganti pas sholat bila perlu)
7. Sikat gigi + pasta gigi kecil (utk di pesawat/airport)
8. Charger + powerbank

Perlengkapan tas selempang
1. Dompet
2. ID card
3. Passport & Boarding Ticket
4. Kacamata hitam
5. Buku saku panduan
6. HP + IPad
7. Masker

Peralatan digunakan
1. Stroller
2. Baby sling (multiguna utk gendong, selimut, alas tidur)

Perjalanan Umroh : Umroh Dengan Bayi

Saya percaya bahwa perjalanan ke Baitullah adalah panggilan khusus dari Allah kepada siapa yang telah Ia pilih. Tid...